link href=' ' rel='shortcut icon'/> kumpulan cerita motivasi: THE IDEA
Motivasi adalah faktor pendukung dari keberhasilan sebuah cita-citamu, kita dapat memetik hikmah dari apa yang telah kita baca dari sebuah perjalanan masa lalu,

Jumat, 30 September 2011

THE IDEA

 Ketika kita duduk dikelas lima, kita merasa telah mengetahuidan terlibat dengan dunia ini. Dunia bagi kita adalah teman, permainan, atau semua hal yang menarik perhatian kita.
 Lalu guru kelas limaku berpikir kami harus lebih mengetahui keadaan diluardunia kami. Maka setiap minggu, kami membaca artikel-artikel dari koran tentang segala yang terjadi diseluruh dunia. Kebanyakan artikel memang menarik, tapi tidak berarti apa-apa bagi ku, sampai akhirnya aku membaca berita tentang afghanistan dimana pemerintahan Taliban tidak memperbolehkan anak perempuan sekolah. Ketika taliban kehilangan kekuasaan, anak-anak perempuan itu dapat bersekolah seperti anak laki-laki. Tapi tetap saja mereka tidak boleh berada dalam seklah yang sama, sehingga pemerintah baru memisahkan sarana sekola untuk anak perempuan.
  Karena negri itu masih dilanda peperangan dan keadaan disanan sangat buruk, mereka terlalu miskin untuk membuat sarana sekolah baru. Aku tidak habis pikir, bagaimana anak-anak perempuan itu akan sekolah jika pensil, kertas, buku, dan bangku-bangkupun mereka tidak punya. Tahun ini juga sekolah kami mendapat kiriman bangku-bangku baru. Bangku-bangku lama dikeluarkan dan dikumpulkan digudang. Dengan alasan mungkin sekolah membutuhknnya lagi. Tapi bisanya tiddak terpakai. Kupikir itu sayang sekali. Dari sanalah aku mendapatkan gagasan"mengapa aku tidak kirimkan saja bangku-bangku itu ke Afghanistan, toh sekolah juga tidak membutuhkannya lagi"
  Ketika ku ceritakan gagasan ku kepada Guruku, beliau tidak yakin gagasanku dapat terlaksana. Bangku-bangku itu sangat berat dan akan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengirimkanya.
  Lalu aku menceritakan pada ibu tiri ku tentang gagasanku ini, beliau suka dengan gagasanku itu. Memang butuh usaha keras untuk mengirimkan bangku-bangku itu melewati separu dunia tapi ia percaya dengan bantuan orang-orang gagasan itu bisa terlaksana.
  Kami mulai mengirim e-mail ke organisasi-organisasi kemanusiaan seperti UNICEF yang bergerak dalam bidang hak asasi anak-anak. Kami tahu UNICEF telah berusaha agar seluruh anak perempuan didunia mengenyam pendidikan. Kami berharap mereka dapat membantu kami. Teman ibu tiri dan beberapa orang yang bekerja bersamanya membantu kami mengirimkan e-mail ke perusahaan-perusahaan jasa pengangkutan dan pengapalan seperti UPS (United Parcel Service). Berharap mereka bersedia mengirimkan bangku-bangku itu ke Afghanistan, bahkan kakak ku turut mendukung dan membuat T-shirt untuk proyek tersebut. aku menamakan proyek ini THE IDEA.
  Sebentar saja kami sudah mendapat balasan e-mail dari UNICEF. Mereka menyukai rencanaku, tapi untuk saat ini masih sangat sulit untuk memasukan barang ke Afghanistan karena perang masih berkecamuk. Tapu mereka bilang akan mencobanya.
  kami juga dihubungi oleh reporter New York Times yang sedang meliput peperangan di Afghanistan. Dia mengirim e-mail, menceritakan keadaan didaerah tujuan bangku-bangku itu. Situasi masih sangat buruk disana, berita ini membuatku sedih. Anak-anak disana pasti selau meraa ketakuatan.
  Setelah yakin UNICEF dan berbagai pihakakan mencoba membantu kami mengirimkan bangku-bangkuitu, kami mendatangi kepala sekolahku dan menanyakan apakah bangku-bajgku tersebut dapat disumbangkan demi proyek ini ia menjawab akan saya coba, lalu keesokan harinya ia menjawan YA.
  Sebuah jasa pengiriman telah setuju meminjamkan peti kemasannya untuk mengapalkan bangku-bangki itu.
Lalu UPS juga setuu meminjamkan sebuah truk untuk mengangkug bangku-bangku itu dari sekolah ke pelabuhan. Maka aku, ibu tiriku dan temanya, serta teman-teman sekolah ku datang membantu menaikan bamgku ke truk, agak sulit memasukan semua bangku itu ke dlam truk, tapi akhirnya bisa juga, bagian yang paling m3nyenangkan adalah ikut kedalam truk mengantarkan bangku-bangku itu kepelabuhan.
  Lalu kami diberitahukan bahwa bangku itu akan ada didalam peti dalam beberapa minggu akrena UNICEF belum dapat memasuki daerah Aghanistan karena masih dalam situasi perang.
  sementara kami menunggu berita dari UNICEF kami diberitahukan bahwa digudang perguruan tinggi dekat sekolah ku banyak bangku yang tak terpakai, lalu kami menanyakan apakah bangku itu akan disumbangkan  ?, ternyata merekan setuju, dan kamipun memberitahukan ke UNICEF tentang kabr ini. Setelah itu kami mendengar bahwa di  Haiti dan Jamaika membutuhksn bsngku belajar. maka lima puluh bangku dikirim untuk mereka, aku sangat senang karna b isa membantu orang lain walau pun bukan anak-anak perempuan Afghanistan yang menarik simpatiku.
  Setelah pengiriman yang pertama, akhirnya kami mendapat berita dari UN ICEF bahwa seratus bauah bangku berhasil dikirimkan ke Afghanistan. Bertjuta rasa tak terlukisakan saan mendengar usaha kami telah berhasil. USaha yangs ebelumnya diragukan banyak orang.
  Tiba-tiba saja aku dibanjiri telepon dari organisasi-organisasi kemanusiaan yang ingin memberiku penghargaan atas apa yang aku lakukan untuk anak-anak afghanistan tersebut. Aku dinominasikan untuk menerima Clara Barton Red Cross Award dan dianugrahi Humanitarian Award dari Pop Warner Football League.
   President Amerika Serikat George Bush, mengirimkan Student Service Award bersama sebuah pin dan surat yang berisi perasaan bangga atas proyekku.
  Impianku yang sangat menjadi kenyatan memancing keinginanku yang lain. Suatu hari nanti aku berharap dapat pergi ke Afghanistan bertemu dngan anak-anak perempuan yang telah aku bantu. Aku menabung dulu sebanyak-banyaknya untuk melakukan itu. Tapi, sepertinya cukup pantas bila nanti aku dapat melihat senyuman diwajah mereka.


Mendapat sebuah gagasan rasanya sepetimenduduki sebuah paku.
yang dimana akan membuatmu bangun 
dan melakukan sesuatu










 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar